When you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life start as soon as possible

Hallo, sudah lama tidak menulis. Akhirnya ada mood nulis lagi,  bulan Maret yang ditunggu tahun ini sudah terlalui dengan sangat bahagia. Alhamdulillah. Banyaaak yang ingin ditulis dan di ceritakan seputar pernikahan, tapi mungkin kita mulai dari proses lamaran dulu ya.

Buat temen – temen yang sekarang menjalani hubungan yang serius dan akan melangsungkan pernikahan, semoga cerita dan pengalaman kita ini bisa jadi referensi atau sedikitnya membantu menyusun rencana lamaran kalian. Karena saya pribadi juga banyak membaca dari blog untuk referensi, dan membaca lagi ketika ada hal yang masih membingungkan. Happy reading guys~

Jadi awalnya setelah dilamar secara personal oleh calon suami saya dulu, kami merencanakan tahap selanjutnya yang akan dilakukan yaitu bertemu orang tua. Kami berdua menyampaikan keinginan kami untuk menikah, menyampaikan bagaimana rencana kedepannya kepada orang tua kami masing-masing. Setelah itu kami mendengarkan bagaimana respon orang tua kami, karena saya dan calon suami masih berumur 23 tahun, kami masih sama-sama belajar dan belum mapam secara finansial mungkin orang tua kami sedikit khawatir. Disinilah tantangan menyampaikan apa niatan kita menikah pada orang tua agar mengerti dan mendukung. Sampaikan rencana hidup yang akan kalian lakukan setelah menikah dan alasan-alasan kenapa ingin menikah. Jangan lupa minta petunjuk dan nasihat dari orang tua juga yaa. Kemudian karena respon orang tua sudah positif dan mendukung saatnya calon suami bertemu dengan bapak tercinta. 

Wihh disinilah saat yang paling deg-degaan, kunci awal yang membuka jalan pernikahan. Bapak saya adalah orang yang sedikit kaku dalam hal intrapersonal, sifatnya cuek diluar namun sebenarnya perhatian dan selalu memikirkan anak-anaknya. Saya dan calon suami sudah pacaran 6 tahun tapi bapak jarang sekali ngobrol dengan calon suami. Calon suami saya juga sebelumnya belum berani bertemu bapak langsung, katanya sih deg-degan. Hueheheh

Kemudian hari itu tiba, calon suami datang kerumah untuk bertemu bapak. Menyampaikan niatan akan menjalin hubungan yang serius dengan saya, dan saat itu bapak memberikan nasihat lalu meminta jika akan melamar setelah ini datanglah bersama keluarga untuk membicarakan kelanjutannya.

Pertemuan keluarga yang pertama antara keluarga saya dan calon suami saya. Suasananya lebih ke perkenalan, silaturahmi dan banyak ngobrol. Walau saya pribadi sebenarnya deg-degan. Pertemuan pertama ini dengan keluarga into saja di kediaman saya di Jatinangor. Belum ada obrolan yang mengarah ke tanggal lamaran sih, karena waktu itu pertama bertemu jadi masih obrolan-obrolan biasa. Tapi setiap tahap yang kami lalui semuanya terasa melegakan, karena effort kami untuk sampai satu tahap demi tahap lainnya membuahkan hasil positif dari keluarga.

Nah disini saya sempat bingung, kenapa keluarga kami tidak membahas tanggal untuk lamaran. Dari keluarga calon suami juga tidak membuka kearah sana, dan karena tidak ada pembicaraan kearah lamaran keluarga saya juga belum merencanakan apa-apa tentang lamaran. Mungkin karena baru pertama ketemu kali ya. Hmmm

Somehow, kita berdua tetap melanjutkan rencana kalau tahap selanjutnya adalah lamaran. Jadi calon suamiku bicara langsung kepada orang tuanya, ingin melamar di bulan November 2015. Jadinya saya dan calon suami yang menentukan tanggal kemudian kami berdua menyampaikan pada keluarga masing-masing. Akhirnya kami menetapkan acara lamaran atau engagement pada hari ulang tahun saya yang ke 23 yaitu tanggal 21 November 2015. Persiapannya saya sendiri yang menyiapkan, konsepnya seperti apa dll. Tapi tentu saja dengan bantuan utama dari keluarga.

Next saya akan cerita tentang engagement to do list yaa!

 

Iklan