Jika kamu sudah membaca Perkenalan dengan LPDP, maka post-an berikut adalah lanjutannya. Bagaimana Sholat Subuh mempertemukan saya kembali dengan LPDP.

Setelah sang sarjana lulus dan mendapatkan gelar S.Farm, dia disibukkan dengan kuliah apoteker yang memiliki sejuta tugas. Perlahan-lahan LPDP terlupakan. Selain itu, sang sarjana memiliki plan lain untuk melanjutkan hubungan  dengan pasangannya ke hubungan yang lebih serius. Menikah. Jaraknya dengan LPDP terasa makin samar dan menjauh.

Karena pasangan ini memiliki umur yang sama awalnya mereka berfikir akan berat jika salah satu dari mereka harus kuliah sedangkan lainnya bekerja. Menilai dan menimbang, awal tahun 2015 sang sarjanapun belum memutuskan apakah dia akan melanjutkan kuliah S2 atau bekerja. Ketika melaksanakan PKPA (Praktik Kerja Profesi Apoteker) sang sarjana menyiapkan keduanya, dia mengikuti les persiapan TOEFL (yang merupakan salah satu syarat LPDP) dan mulai melakukan interview kerja di beberapa Industri Farmasi Indonesia. Sampai satu titik akhirnya ia memutuskan akan bekerja setelah kuliah Apoteker.

Setelah selesai PKPA, sang sarjana mengutarakan keinginan dan rencana setelah kuliah pada orang tuanya. Yang akhirnya membuat keputusan yang ia ambil benar-benar goyah.

Sang ayah adalah ayah yang demokratis, membebaskan apa yang akan anaknya pilih namun tak lepas dari itu setiap orang tua memiliki keinginan dan harapan untuk anaknya. Dari jauh hari memang ayah dan ibu sang sarjana sudah memberi saran agar sang sarjana terus melanjutkan sekolah sampai Magister, dan bekerja sebagai dosen. Namun, masih terdapat keinginan sang sarjana yang tidak sama dengan harapan orang tuanya sehingga tanpa berdiskusi dengan orang tua sang sarjana memutuskan untuk bekerja setelah menyelesaikan kuliah Apoteker. Mendengar keputusan yang dibuat, sang ayah mengucapkan beberapa kalimat yang membuat putaran hidup sang sarjana berubah.

Apa alasan yang kuat hingga kamu sibuk mencari kerja kesana kemari sementara kamu masih punya kesempatan untuk belajar?

Harta jika diwariskan akan habis jika tidak mempunyai ilmu. Ayah menyekolahkan kamu agar kamu berilmu dan dapat beramal. Ayah dulu ingin sekolah tapi tidak memiliki biaya. Sekarang alhamdulillah ayah punya rezeki untuk menyekolahkan kamu. Orangtua itu mencari uang untuk apa? untuk siapa? untuk anaknya.

Sekarang mumpung ayah masih sehat, masih ada rezeki, menyekolahkan kamu masih jadi tanggung jawab ayah. Kalau setelah kuliah S2 nanti kamu mau bekerja atau menjadi dosen itu kamu tentukan sendiri nanti.  Kamu ada rencana mau menikah tidak akan ayah halangi. Dan kamu ga usah takut. Tidak semua orang tua akan melepas begitu saja anaknya setelah menikah.

Setelah menikah, masalah biaya hidup biarkan suamimu yang bertanggungjawab nanti . Tetapi untuk pendidikan itu masih tanggung jawab ayah untuk membekali kamu ilmu.

Setengah sedih, haru, tertegun dan menyesal. Sang sarjana yang awalnya kekeuh untuk mencari kerja, hingga berdebat dengan orangtuanya akhirnya menyadari satu hal kesalahannya.

Berapa banyak rencana yang dibuat orang tua untuk kamu? kebahagiaan kamu? Orang pertama yang harusnya kamu ajak untuk membuat rencana hidup kamu adalah orang tua.

Apabila dengan rencana itu orang tua mu bahagia, kenapa tidak kamu lakukan? Kamu tahu? tidak ada orang tua yang ingin anaknya sengsara. Jika ini jalan yang mereka Ridhoi, dan jalan yang akan membuat mereka bahagia, apa yang lebih baik dari itu?? Ridho Alloh SWT Ridho Orang tua.

Walaupun sang ayah memberi lampu hijau untuk rencana menikah dan menyanggupi membiayai kuliah S2. Sang Sarjana masih merasa galau. Ditahun 2016, jika ia menikah, kuliah S2 dan adiknya masuk kuliah S1. Berapa banyak pengeluaran yang ayahnya keluarkan ditahun yang sama?? Bagaimana cara mewujudkan harapan orangtua, tanpa membebani ayah? tanpa harus men-delete rencana yang lain??

Suatu Subuh satu hari setelah dinyatakan lulus sidang Apoteker. Setelah sholat subuh, sang sarjana membuka Al-Quran dan membaca beberapa ayat, menenangkan hati dari kegalauan rencana hidupnya kedepan. Tiba-tiba ia menemukan satu kata terlintas di kepalanya berkali-kali. LPDP, LPDP, LPDP, LPDP.

Seketika setelah menyelesaikan bacaan Qurannya. Sang Sarjana membuka laptop dan melihat jadwal pendaftaran LPDP. Ada kesempatan terbuka disana, Pendaftaran Gelombang IV Tahun 2015. Ilham ini, petunjuk dari Alloh SWT, jawaban atas keraguan dan kegalauan sang sarjana. Dari hari itulah dimulai perjuangan sang sarjana menjadi seorang awardee.



 

 

Iklan